Senin, 10 Oktober 2011

aku gak pingin punya titel

SARJANA DAN TINGKAT PENGANGGURAN
Oleh    : KUSNADI
(Mahasiswa Fakultas Hukum)

Benarkah dengan pendidikan yang tinggi akan semakin mudah mencari kerja? Dan mampukah Pemerintah dengan filosopis anggaran 20 % dari APBN maupun APBD yang dialokasikan untuk pendidikan nantinya dibarengi dengan peningkatan kesempatan kerja? atau hanya hisapan jempol belaka?
            Bagaimanapun pendidikan adalah sarana untuk mentrasformasi kehidupan kearah yang lebih baik. Pendidikan pun dijadikan standar stratifikasi sosial seseorang. Orang yang berpendidikan akan mendapatkan penghormatan (prestice of life) dimata publik walaupun dari keturunannya tidak dikarunia oleh Tuhan kekayaan yang berlimpah.
            Akibatnya, orangpun berbondong-bondong untuk mengeyam pendidikan setinggi-tingginya. Mengingat dunia ini terus melaju pada era globalisasi, era persaingan global dan Indonesia merupakan bagian yang ikut andil didalamnya.
Dikehendaki ataupun tidak, setiap negera akan mengikuti perubahan dunia tersebut. Sehingga untuk mempersiapkan diri dari setiap persaingan global tersebut, manusiapun meningkatkan kualitas dan kuantitas pendidikannya baik mereguk pendidikan didalam negeri maupun dinegeri orang yang sudah nyata-nyata kualitasnya (hight quality). Demikian  merupakan syarat utamanya.

Lonjakan drastis
Namun alangkah mirisnya hati ini, tatkala jumlah pengangguran tingkat sarjana dewasa ini melonjak drastis, yakni dari 183.629 lulusan pada tahun 2006 menjadi 409.890 lulusan pada tahun 2007. ditambah dengan pemegang gelar diploma I, II, dan III yang menganggur, sehingga berdasarkan pendataan tahun 2007 lebih dari 740.000 orang ( Kompas, 06/02/2008).
Kenapa hal demikian ini bisa terjadi? Bukankah semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin luas pula kesempatan kerja yang diperolehnya? Atau dimanakah letak kesalahan tersebut?  Apakah sistem pendidikan yang selama ini keliru? Yang hanya berorientasi melahirkan jumlah calon karyawan yang mencari kerja( what to do) tetapi bukan bagaimana menciptakan calon-calon pengusaha yang mendiri ( what to be)
                       
Kenapa menganggur?
Menurut Richard G. Lipsey dkk. ( dalam buku “Economics 10th ed.”, 1997: 39) menjelaskan, bahwa pengangguran adalah barang buruk (“bad”) sosial seperti halnya keluaran merupakan barang baik (“good”) sosial. Orang yang menganggur adalah orang yang mau dan mampu bekerja tetapi tidak dapat memperoleh pekerjaan.
Masih menurut Lipsey, Pengangguran pun merupakan sumber daya berharga yang potensi keluarannya tersia-sia. Pasangan fisik pengangguran adalah senjang resesi—potensi PDB yang tidak jadi dihasilkan. Keadaan demikian akan berpengaruh juga pada Pendapatan Nasional.
Bila pendapatan nasional berubah, maka volume kesempatan kerja ( employment) dan volume pengangguran (Unemployment) juga berubah. Angka pengangguran memang berfluktuasi dari tahun ke tahun, karena perubahan pada angkatan kerja tidak persis diimbangi oleh perubahan pada kesempatan kerja.
Ada beragam alasan kenapa para lulusan sarjana menganggur. Alasan pertama adalah apa yang dinamakan dengan pengangguran siklis yaitu orang menganggur terpaksa (involuntarily unemployed). Golongan lulusan sarjana ini ingin bekerja dengan tingkat upah yang berlaku, tetapi sayangnya pekerjaan tidak tersedia. Bisa dikatakan juga sarjana ini termasuk yang pilih-pilih kerja. Boleh saja ia memfilterisasi pekerjaan sesuai skill dan kapabelitas keilmuannya. Tetapi kalau terlalu lama menunggu, maka akan terjadi dekonstruksi terhadap kesarjanaanya di area publik. Pengangguran siklis merupakan tantangan bagi teori ekonomi mikro.
            Yang kedua adalah pengangguran friksional yang diakibatkan oleh perputaran (turnover) normal  tenaga kerja. Orang-orang muda ( fresh graduetion ) yang memasuki angkatan kerja dan mencari pekerjaan. Tanpa diikuti dengan skill yanng mumpuni atau pengalaman kerja yang tidak memadai, sehingga kalah dalam kompetisi kerja. Akibatnya para sarjana muda tersebut merupakan sumber penting pengangguran friksional. Ataupun dengan para sarjana yang keluar dari pekerjaannya merupakan smber yang lainnya.
            Untuk menanggulangi pengangguran friksional ini dibutuhkan training-training keahlian kerja dan menumbuhkan jiwa kewirausahaannya. Sebab setiap orang dilahirkan dengan bakat alamiah. Bilamana bakat alamiah ini terus diasah dan dikembangkan, tidak mustahil akan mendatangkan income juga.
            Sedangkan jenis pengangguran yang ketiga adalah pengangguran struktural, yang didefinisikan sebagai pengangguran yang disebabkan ketidak sesuaian antara struktur angkatan kerja berdasarkan jenis keterampilan, pekerjaan, industri, atau lokasi geografis—dan struktur permintaan akan tenaga kerja.
            Pengangguran jenis ketiga ini lebih berkaitan dengan kebijakan pemerintah yang mempengaruhi kecepatan penyesuaian pasar tenaga kerja terhadap perubahan. Seperti di Inggris dan kanada telah menerapkan kebijakan yang menghambat perpindahan antara wilayah, industri, dan jenis pekerjaan. Sehingga kebijakan tersebut cenderung meningkatkan pengangguran struktural.
Sedangkan di Indonesia ketika diterapkannya UU RI No.13/2003 tentang ketenagakerjaan telah menganut sistem perjanjian kerja kontrak. Yang sebenarnya merugikan karyawan. Dan berpeluang meningkatnya angka pengangguran
           
Lulus Bak Taman Kanak-Kanak
Dalam persfektif kebijkan publik terutama tentang pendidikan perguruan tinggi,  dimana saat ini menggunakan Sistem Kredit Semester ( SKS ), para calon sarjana bisa menyelesaikan akademiknya hanya dalam waktu sekurang-kurangnya  3,5 tahun, bagi kelas reguler. Tetapi yang anehnya lagi ada beberapa PTS yang mengeluarkan kebijakan bisa lulus dalam waktu 2 tahun bagi kelas karyawan (extention ) yang hanya 2-3 hari kuliah.
            Hal demikian memberikan sinyalemen bahwa meraih gelar kesarjanaan saat ini bisa secepat lulusan Taman Kanak-Kanak. Berbeda dengan era 90-an kebelakang, bahwa untuk meraih gelar sarjana dibutuhkan waktu sekurang-kurangnya lima tahun.
Alhasil jumlah lulusan sarjana dari tahun ketahun semakin berjubel, sehingga semakin meningkat pula angkatan kerja yang tidak persis diimbangi dengan perubahan pada kesempatan kerja.
            Kalau tetap nganggur, masih banggakah kita bertitel sarjana ditengah hegemoni pendidikan masyarakat?
*KUSNADI
        Koordinator Forum Independen dan Penyadaran Masyarakat